Sebelas Januari Bertemu...Menjalani Kisah Gigi ini
Sengatan matahari tanjung benoa masih terasa begitu membakar kulit. Hamparan beraneka ragam biota dan hijaunya safana dasar laut masih jelas melayang-layang dalam alam bawah sadarku. Ditambah lagi 10 kg karang yang seakan-akan ada dikelopak mataku, semakin membuat diriku ingin lebih lama lagi menikmati kembali memori indahnya semenanjung pulau bali ini. Tapi, sosok seorang dokter serta merta hadir, dengan membawa Remote Canggih buatan abad 30. tanpa basi-basi menekan tombol dengan simbol bujur sangkar itu. ARGGGGGHHH….seketika aku kembali dalam dunia fana ini.
Terlepasnya Pin yang terpasang di gigi 2 (begitu dokter itu menyebut gigi nomer 2 sebelah kanan gigi terdepanku), membuatku tersadar bahwa aku di pagi ini harus bertemu dokter gigi itu lagi setelah pertemuan pertama 3 Hari yang lalu, tepatnya 8 januari (hari yang istimewa?! Tentu!!! Tanyakan saja pada idunk). Pada tanggal itu aku dengan tekad bulat memutuskan untuk melingkari gigi atasku dengan kawat, disetiap gigi yang dilintasi kawat tersebut terpasang pin penyangga agar gigi dapat rapi berjajar mengikuti garis parabola kawat tersebut.
Aku tau pasti apa yang menyebabkan pin itu bisa lepas dari mahkota luar gigi-ku. Secara normal (kalo si pasien bertindak normal), hal itu tidak mungkin terjadi. Sebab antara pin itu dan gigiku sudah direkatkan secara sempurna dengan lem superkuat yang telah di uji secara teknis di laboraturium. Jadi buat kamu-kamu yang butuh lem superkuat mandraguna..Gunakanlah lem itu. Di jamin lengket awet mepet selama-lamanya (sekali lagi saya tegaskan, statement ini masi berlaku jikalau anda bertindak normal). Mulai hari ini lupakan Lem UHU, Castol, dan Alteko…pakailah lem Gigi (lho?!?). tapi aku menyadari, pin itu terlepas karena aku telah bertindak abnormal. Tertawa selebar-lebarnya, pemakan segala, dan bermacam aktifitas lainnya yang seharusnya pantang dilakukan oleh hari-hari pertama penderita gigi-berkawat, aku Lakukan!!!!dan inilah karma yang harus aku tanggung.
Setelah duduk di kursi yang telah lama aku idam-idamkan untuk memilikinya itu (coz ada TV, sandaran punggung bisa digerakin, ada lampu baca, tempat minum serba guna). Dokter itu kemudian mulai membuka lingkaran karet yang di gunakan untuk mengkaitan antara pin itu dengan kawat penyangga. Dan kamu tau apa yang terjadi kawan? Sifat pegas karet itu membuat pin terlempar entah kemana. Sekarang suasana ruangan itu berubah. Kondisi pasien yang duduk manis saat dokter aktif memeriksa gigi, di iringin musik melankolis, dan perawat yang sigap membantu dokter melaksanakan tugasnya. Berubah menjadi tiga orang clingak-clinguk di lantai sambil mengais-ngais sesuatu di setiap pojok ruangan, berharap ada satu benda kecil yang dapat bersentuh oleh ke enam tangan dari tiga orang itu. Ditemukan? (kamu salah kawan, ini bukan cerita sinetron yang selalu berakhir manis. ini realita cerita nyata yang memang sudah ditentukan Tuhan untuk terjadi di hari itu). agar aktifitas dokter ini lebih beragam, setidaknya tidak hanya mencari pin seharian penuh, dan tidak menelantarkan pasien lainnya yang sudah mengerang kesakitan akibat kemaren tidak gosok gigi. Akhirnya Plan B dijalankan, dokter tersebut menggantinya dengan pin yang masih ada dalam persediaannya. Karena pin untuk gigi 2 sudah tidak ada, maka digantikan dengan pin yang digunakan untuk gigi geraham. Proses pemasangannya sama seperti yang sudah2. Mulai dari memberihkan gigi dari lem yang menempel sebelumnya, mengoles lem super, memanasinya memakai alat seperti hairdryer, memasang pin, dan diakhiri lagi dengan memanasinya. Setelah pemasangan itu selesai, dilanjutkan dengan pemasangan karet pengait antara pin dan kawat. Lega hati ini karena penyiksaan atas nama estitika dan kesehatan untuk hari ini selesai sudah. Dan berganti dengan kegembiraan hati menikmati suasana gemuruh air di waterbom.
Sesampainya di rumah aku bersama ayahku pergi untuk membeli beberapa keperluan rumah, sesaat dalam perjalanan ke rumah itu. bunyi TEK...kucari sumber suara itu, dan kusadari bahwa nada fals itu berasal dari mulutku. Dengan sigap kulihat gigi ini di cermin sepeda motorku. DAMN!!!!! Pin itu terlepas lagi…
Untuk kedua kalinya kukunjungi rumah sakit tempat dokter sakti yang mempunyai lem super itu bersemedi. Saat masuk keruangan itu, seakan tau akan permasalah yang sedang menimpaku, beliau berkata ; “ kenapa ngga, lepas lagi ya?”. Aku dengan lesu menjawab : “hehehehehe, iya dok.”
Kali ini tidak ada sikap abnormalku yang mendasari kejadian kali ini. Ini murni kesalahan teknis. Ternyata pin graham itu tidak sesuai digunakan untuk gigi nomer 2 ku. Karena dasar dari pin itu yang melengkung sehingga tidak bisa merekat sempurna, sekalipun telah direkatkan pada lem superkuat mandraguna itu. kami bertiga akhirnya kembali mencari-cari pin gigi 2 ku yang hilang tadi…dan kali ini kejelelian dan mata elang perawat itu yang berhasil menemukannya. Kemudian proses pemasangan itu kembali dilakukan dengan prosedur yang sama. Setelah selesai pemasangan pin, aku kemudian pulang dan berharap hari ini adalah hari terakhir aku melihat pintu ruangan dokter muda ini. Aku tak mau mencetak hatrik. 3 kali mengunjungi dokter yang sama, masalah yang sama, hari yang sama, prosedur yang sama, dan derita yang sama.
Sudah cukup wahai Tuhan, kau berikan cobaan ini…aku janji untuk berlaku normal lagi. Jumat ini aku akan sembahyang lebih khusyuk dan lebih lama lagi di Masjid.
Sesampainya di rumah dan menyiapkan perlengkapan untuk solat jumat. TEK…suara itu seperti tak asing ditelingaku…aku kemudian mecari kaca untuk melihat barisan gigi-gigiku…ughhhhh,kamu tau apa yang terjadi! YUPPP dugaanmu 1000% benar. Pin itu lepas lagi. Dengan perasaan kalut, cemas, gedeg, sebel, marah, aku paksakan membawa gigi ini kembali ke dokter. Aku capek cuman harus mondar-mandir ke dokter ini. Dan aku tau pasti pertemuanku kali ini akan mendapatkan sebuah mangkuk cantik, karena dengan sukses tiga kali berturut-turut mengunjungi dokter itu pada hari yang sama. Selamat anda layak dapat bintang (eh, maksudku Mangkok) !!!!. kali ini dokter tersebut mengambil Plan C untuk menyelesaikan masalah ini. Hipotesa awal dari masalah ini adalah “Lem belum cepat kering saat pemasangan Pin, sehingga tidak dapat merekat secara sempurna pada permukaan gigi”. Setelah melakukan prosedur yang sama, kemudian dokter menunda pemasangan karet pengait itu hingga esok hari, guna memberi waktu agar lem dapat merekat dengan kuat. Ughhhhhh.
11 Januari. Tanggal itu gak mungkin bakalan hilang dalam memori otakku. Karena tidak hanya Band GIGI yang sukses membawa lagu itu populer di masyarakat.tapi jauh di atas sana, hari ini Tuhan telah menuliskan syair peristiwa yang begitu berwarna di tengah hitam-putihnya lukisan keseharian hidupku.

0 komentar:
Posting Komentar