Ahhhh..lega rasanya ada waktu untuk ngeblog lagi…mau tahu rasanya sobat, betapa bahagianya punya waktu nulis lagi? Pernah kau rasakan moment saat cintamu diterima oleh sang pujaan hati? Atau dikala kau mendapatkan hadiah ulang tahun di masa kecil dulu? Ini jauh dari itu…ku merindukan word, bukan untuk mengetik tugas-tugas kantor. Ku mendamba internet, bukan karena aku seorang facebook addict. Ku menulis dan browsing untuk melepaskan kecintaan akan dunia blog ini. Sungguh tiada tara rasanya sobat.
Hari jumat kemaren, bisa jadi sama seperti jumat-jumatku yang telah pergi berlalu. Andaikata, aku tak bertemu dengan teman lamaku di sebuah mushola di salah satu instansi pemerintah. Saat khotib mulai memberikan ceramah pertamanya, seseorang telah menepuk pundak ini dan menaruh sejadah disebelahku. Ah, sebagai alumnus TPA Al-Qur’an 13 tahun lalu di mushola ini tentunya ia hafal betul seluk beluk tempat ini. Pria yang dulu diberi nama Slamet oleh orang tuanya ini, datang untuk melalui pintu timur. Tempat wudlu berada disebelah kiri pintu masuk. Tak usah kau tanyakan sobat bagaimana banyaknya orang yang mengantri di tempat itu. Pertama, karena memang pintu timur adalah pintu utama penghubung antara mushola dan jalan. Dan kedua, detik-detik menjelang khotbah dimulai adalah saat yang sangat pas untuk mulai memasuki masjid, padahal jika mereka tau bahwa malaikat pun mencatat dengan tinta emas urutan orang yang masuk ke masjid dan penghitungan tersebut berhenti saat khotib memulai khotbahnya. Tentu mereka akan berbondong-bondong menjadi urutan yang terdepan. Bisa kau bayangkan sobat, apabila dirimu tidak bisa masuk daftar tersebut hanya karena mengantri di tempat wudhu. Tak seperti yang lainnya yang masih mengantri, setelah menepuk dan menaruh sajadah disebelahku, dia langsung menuju ke arah kiri mimbar, tempat yang sebenarnya digunakan untuk wudhu para wanita. Namun karena tempatnya agak masuk kedalam, tak banyak yang mengetahui tempat wudhu ini. Slamet beruntung kali ini bisa selamat masuk daftar tinta emas, karena pengalamannya pernah menjadi salah satu siswa TPQ mushola ini.
Bagi yang haus akan ilmu agama, moment saat khotib memberikan ceramah adalah saat yang tepat untuk menyerap intisari yang diberikan atau sekedar introkspeksi diri tentang segala kebodohan dan dosa yang telah dilakukan selama satu minggu. Namun sayangnya, seringkali kudapati diriku sendiri dan orang disekitarku acuh tak acuh akan khotbah yang diberikan. Udara sejuk, angin semilir yang mengalir dari kipas yang tepat berada diatas kami merupakan salah satu setan penggoda iman kami untuk meninggalkan jauh sang khotib melalui lamunan dan fikiran menerawang tentang menu apa yang pas disantap di istirahat siang setelah sholat ini?. Bahkan yang lebih parah, ada yang gagah berani menghilangkan khotib dan jamaah sekitarnya, tentu sobat bertanya-tanya ilmu kanuragan apa yang sedang digunakan? Kau pun tanpa sadar telah menggunakannya. Keletihan karena telah ½ hari bekerja membanting tulang (orang lain), ditambah lagi suasana dan posisi duduk yang mendukung. Membuat telinga ini tuli, pikiran kosong, dan akhirnya mata ini melakukan kudeta, menutup tiba-tiba tanpa perintah. Nah saat ini sobat, kau telah berhasil menyamai ilmu Deddy Corbusier atau David Coperviled sekalipun, karena saat ini masjid seisinya telah sukses kau lenyapkan….tanpa bekas..
Setelah selesai wudhu, slamet duduk tepat disisi kiriku. Aku hanya menyalaminya, tanpa bicara sepatah katapun. Karena memang begitulah adab sholat jumat. Namun 10 menit setelah itu, slamet memulai percakapan dengan bertanya “sama siapa kesini, ngga?” dan akupun menjawabnya. Jawabanku tersebut ternyata menjadi awal dari perbincangan basa-basi dua teman lama semasa menimba ilmu di mushola ini. Karena ingin menghargai khotib dan majelis ini, maka kami berduapun berusaha menyimak khotbah sang khotib. Kusimak secara seksama dan kuberusaha menanam ilmu itu dalam-dalam di otakku, agar disaat iman di hati ini sedang krisis nanti, kudapat menggali ilmu ini,untuk kemudian kutaburkan lagi dihati. Kenyataan ini mungkin juga dialami oleh slamet, mungkin karena terlalu mendalami dan mengutuki kesalahan yang telah diperbuat selama seminggu ini, kulihat diujung mata paling kiri, dia hanya menunduk seolah sadar,inyaf bahwa sebagai manusia yang tak pernah luput dari dosa. 30 menit khotbah pertama ini berlangsung, membuat badan mulai tak nyaman karena berdiam dalam rentang waktu yang lama, ditambah lagi badan yang berdempet-dempet dengan jamaah di kanan dan dengan si slamet di sebelah kiri. Maksud hati maju agak kedepan untuk memberikan ruang ke jamah yang bersebelahan denganku, namun rasa kaget tak terkira yang kudapat. Secara tiba-tiba terdengar bunyi benda jatuh disebelahku. Secara spontan aku menoleh kesebelah kiri, alahkah kagetnya setelah mendapati slamet yang sekarang posisi pundak kanannya berada dilantai. Terjelembab jatuh….Ahhhhhh, rupanya ia tak seperti yang pikirkan tadi, sedang terlelap tidur rupanya. Jika tadi ia selamat tetap ada di daftar tinta emas yang di tulis malaikat. Kini ia tak selamat, karena tidur jumatnya (bukan solat jumat) ketahuan banyak orang, malaikat, dan juga Tuhan tentunya…

ha..ha..lucu ngga....
bagus tulisanmu...
top mengatakan...
3 Oktober 2010 pukul 19.32