Ujian -Part 1-

Finally, 2 hari itu lewat juga meskipun harus dilewati dengan tetes darah, luka di sekujur tubuh yang sampai kini tak kunjung pulih sebagai akibat cabikan sporadis, kejam, tak kenal ampun dari soal2 tes CPNS itu. Trauma itu masi menggelayuti selaput otakku, merobeknya, sehingga otak kiri dan kananku bercampur. Kini apabila kau tanyakan mengenai alur pemikiran rasional mengenai dampak pemadaman listrik secara bergilir terhadap perekonomian? Dan mengenai tanggapanku terhadap nada-nada eksplorasi Kangen Band yang menguncang dunia permusikan tanah air? Jawabanku mungkin bisa tak berhubungan dengan apa yang kau tanyakan. Atau bahkan aku cuma bisa diam membisu. Dan kemudian ku ambil gitar dan ku lilitkan selendang ibuku di leher, dengan sigap ku gerakkan leher gitar itu belakang ke depan. Kemudian berhenti sejenak untuk mengucapkan : “Terlaaaaaluuuu”. Ah…tampaknya telah aku temukan jawaban mengapa Bang Rhoma menciptakan kata fenomenal itu. rupanya dulu beliau pernah ikut tes CPNS juga.
Hari 1:
Background setting : Hotel xxx, Lantai 3, Ruang Matahari, Kursi Berselimut.
Cuaca : Cerah berawan
Kondisi Mental : Siap Tempur, Pantang Mundur
Amunisi : Pensil 2B, Penghapus, Bolpoint, Alas Tulis

Seperti acara resmi kenegaraan lainnya, tes kali ini pun tak luput dari pembacaan sambutan dari pejabat penting institusi itu. setelah itu panitia tak lupa pula membacakan tata-tertib saat menjalani ujian. Namun tiba-tiba terdengar bunyi toa mengema dari lambungku ini. Ada Apa Dengan Lambung (AADL)? Ternyata, mahkluk-mahkluk negeri lambungku melakukan demonstrasi pemogokan kerja karena asupan makan pagi lupa dipenuhi, dengan tenang aku berdiri dihadapan sekitar lima ribuan mahkluk itu, dan mengatakan : “kita akan makan besar setelah tes ini berlangsung, apapun yang kalian minta akan aku penuhi. Asal jangan kau kudeta pimpinanmu ini yang sedang menghadapi fit and proper tes CPNS”. Setelah negeri lambung tenang aman sentosa kembali, saatnya fikiran dan konsentrasi di set kembali untuk menghadapi ujian yang akan dilaksanakan beberapa saat lagi. Aku menghuni kursi berselimut yang ada di baris no sembilan, kolom pertama. Tepat setengah meter dari AC yang berdiri kokoh tepat sebelah kiriku. Tak heran bila kursi di ruangan ini tampak diselimuti kain berwarna krem, selain faktor estetika dan gengsi,kehadiran 12 AC ini tampaknya juga mempengaruhi kebijakan itu. Jarak antar bangku sekitar lima puluh centi meter. Lupakan semboyan kejayaan bangku kuliah dulu “posisi menentukan prestasi”. karena sesuai fatwa panitia, kontak antar anggota adalah haram hukumnya. Tak bisa kubayangkan hukuman yang akan ditimpakan bagi yang secara sengaja mempecundangi peraturan tersebut. kalo bernasib baik,mungkin bisa dikucilkan dan melakukan tes diruangan yang berbeda. Namun, bisa kau bayangkan apabila di keluarkan dari komunitas intelektual yang terhormat ini, dan tidak lagi di izinkan untuk mengikuti tes selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Ah, tak pantas rasanya menaruh muka ini dikepala, apabila hal tersebut terjadi padaku.
Pada hari pertama ini ada dua materi yang di ujikan kepada setiap peserta, yaitu kemampuan berbahas inggris, dan berbahasa indonesia. Masing2 terdiri 3 sesi. Tes pertama, sesi pertama aku terbuai dengan menjawab begitu mudahnya soal2 ini. sewaktu salah satu panitia basa-basi menanyakan tentang kesulitan soal, dengan enteng ku menjawab : “soalnya gampang-gampang kok.” Petaka itu datang pada sesi kedua, karena kita di haruskan membaca paragraf dulu untuk menjawab 2 sampai 3 soal berikutnya. Waktuku banyak terbuang di sesi ini. Dan seperti yang dapat di bayangkan, pada sesi tiga aku kehabisan waktu. tindakan spekulasipun aku terapkan untuk sesi ini…tak heran bila di lembar jawaban itu pada 20 kolom terakhir tampak monoton, lurus tak berbelok, tak bervariasi. Karena lingkaran B adalah jawaban yang aku pilih untuk ke-20 nomor itu. ah, strategi meremehkan soal pada sesi pertama adalah kesalahan fatal abad ini yang telah aku perbuat.
Tes Bahasa indonesia berlangsung tanpa halangan berarti. Terbukti banyak peserta yang telah menyelesaikan tes ini meskipun masih sangat banyak waktu yang tersisa. Ini membuktikan mereka memang layak disebut rakyat yang mengerti dan memahami bahasa pengantar nasional tersebut. begitu juga denganku. Doa dan harapan lebih ngeucur deras pada tes bahasa inggris tadi. Berharap semua jawaban 20 nomor terakhir adalah B. amin ya robal alamin…

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda